Indonesia
dan Global
Pada tahun 2016
berdasarkan studi Most Littered Nation In the World, Indonesia menempati urutan
ke 60 dari 61 negara di dunia dalam hal minat membaca. Hal itu dituturkan juga
oleh Pustakawan Utama Perpus RI, Subekti Makdriani saat menjadi pembicara
Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Provinsi dan Kabupaten/Kota tahun
2017, di Pendopo Kabupaten Kendal,
Senin (15/05/2017). Untuk di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) Indonesia berada di
posisi tiga terbawah, di atas Kamboja dan Laos. Berdasarkan indeks nasional
minat baca ini hanya sekitar 0,01%. Sedangkan pada hasil survei UNESCO hanya
berkisar 0,001%. Artinya hanya 1 dari 1000 anak yang memiliki minat membaca. Hal
tersebut membuat Indonesia berada di urutan 124 dari 187 negara dalam penilaian
Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Pemaparan fakta di atas
dapat diambil kesimpulan bahwa Negara Indonesia sekarang ini tertinggal sangat
jauh. Beban yang harus ditanggung negara dan masyarakat semakin berat. Jika hal
ini terus berlanjut, maka cita-cita pembangunan akan sangat terhambat dan
membutuhkan waktu lama untuk memajukan negara ini. Padahal semua masyarakat
menginginkan Indonesia maju, sejatera, ingin ini itu dan sebagainya. Tapi
gerakan nyata yang dilakukan tidak semua melakukannya. Kita masih berfikir
apatis terhadap lingkungan. Jangankan lingkungan, peduli akan dirinya saja
“ogah-ogahan”. Semuanya tidak mau ikut membangun, hanya ingin menerima “manis”
nya saja dari para penoreh tinta emas.
Lambatnya kemajuan ini
membuat setiap individu telah kehilangan jati dirinya, sehingga lupa akan jati
diri bangsanya sendiri bahkan mungkin sejarah yang membangun negaranya sendiri
pun lupa. Hal ini karena budaya-budaya luar telah banyak mewarnai kehidupan
bangsa ini. Mereka sadar bahwa Indonesia mampu dikalahkan dengan kesenangan
duniawi dan kebanyakan dari kitanya ini terlalu fanatik akan hal itu. Mereka menghancurkan
kita dengan berbagai bombardir yang tidak pernah kita sadari. Contoh kecilnya
kita lirik pada film – film yang beredar, sadar atau tidak film yang kita lihat
telah merubah sifat dan karakter kita, cara berpakaian, berperilaku terutama
terhadap yang lebih tua, dan cara berbicara. Semua berubah tanpa kita sadari.
Perubahan ini tidak hanya pada satu orang, tetapi semua orang. Mereka yang
tidak pandai dalam memfilter akan terpengaruh. Budaya – budaya luar tahu, kita
bisa dikalahkan dari alam bawah sadar kita.
Pelakon – pelakon elit pun tidak luput dalam
hal ini, entah yang berada di kursi legislatif, eksekutif, yudikatif, maupun
yang tersebar di berbagai daerah. Mereka kebanyakan mencontohkan hal yang
buruk, lupa kepada mereka yang telah mengangkat namanya. Berperilaku sesukanya
hanya karena dia sebagai pemimpin, mengorbankan bangsanya sendiri untuk
kepentingan pribadi. Selalu saja tajam ke bawah, tumpul ke atas. Segelintir orang mengerti akan kondisi ini,
mereka yang mencoba melawan tanpa ada kemantapan
hati akan terpengaruh. Namun tidak sedikit yang bertahan dengan kemantapan hati
sembari melawan sesuai latar belakang keilmuannya masing – masing. Mereka yang dari
berbagai kalangan menyatakan bahwa ada budaya – budaya yang tidak sesuai dengan
Indonesia dan harus dikeluarkan, jangan sampai masuk kembali.
Dalam hal ini
diperlukan wadah – wadah menarik agar para generasi bangsa terutama pemuda –
pemudanya tertarik untuk melakukan perubahan. Perubahan untuk diri mereka,
lingkungan dan bangsa negaranya. Mengarahkan semangat mereka adalah satu hal
yang penting agar perubahan yang dinginkan tercapai. Diperlukan pula suatu
hadiah atau imbalan sebagai bentuk terima kasih kepada mereka karena telah
berjuang untuk bangsa dan negaranya, hal itulah yang dapat dilakukan untuk
menghargai usahanya. Setiap manusia akan sangat senang jika ada penghargaan
atas usahanya. Sederhana memang, tapi jika hal itu diterapkan disekolah maka
saya yakin ke depannya tidak akan ada lagi murid-murid yang mencontek saat
ujian. Karena faktanya, mereka mengutarakan bahwa guru lebih menghargai dan
membanggakan nilai murid yang bagus, entah didapat dengan cara apa
didapatkannya. Karena dimata guru nilai bagus menandakan si anak telah belajar
bersungguh-sungguh. Padahal tidak. Ada anak yang telah belajar dan berusaha
keras, tetapi nilainya masih dibawah minimal.
Tidak semua anak memiliki kemampuan dibidang yang sama, tapi sistem
pendidikan di Indonesia yang memaksa mereka harus menjadi apa yang bukan diri
mereka.
Kemudian membantu dalam segala hal yang
sifatnya membangun dan mengembangkan potensi yang ada. Jangan takut untuk
mengorbankan sesuatu, jika masih takut untuk berkorban, maka impian perubahan
itu hanyalah angan-angan semata. Andaikan sejak zaman penjajahan dulu tidak ada
yang berani berkorban, kita belum merdeka sekarang. Sejak zaman kuno saja untuk
pengembangan ilmu pengetauan dan teknologi mereka rela menghabiskan harta benda
bahkan sampai ada yang meninggalkan keluarganya untuk kemajuan yang diharapkan
sejak dulu. Mereka melakukan percobaan beribu-ribu kali untuk mensejaterakan
umat manusia di masa depan. Karena orang zaman kuno sadar, masalah-masalah
didunia ini akan semakin kompleks jika tidak dibarengi dengan kemajuan iptek.
Tapi saat kemajuan zaman berlangsung, ada saja pihak – pihak yang mengingikan
lebih dan lebih. Menyalahgunakan kemajuan iptek tersebut untuk kepentingan
pribadi. Haus akan kekuasaan bahkan sampai sekarang masih haus.
Percetakan generasi
yang membawa perubahan sangatlah penting, agar gejolak dunia saat ini tidak
semakin parah. Indonesia mampu untuk melakukannya. Pemuda – pemuda kita saat
ini telah berjaya di luar sana, telah dikenal sebagai agen perubahan. Mereka
menampakkan ciri khas masyarakat Indonesia yang sesungguhnya. Dengan lebih
menghargai hasil karya suatu anak bangsa dan memanfaatkan kecerdasan mereka
untuk kemajuan negeri, maka setiap daerah di Indonesia akan maju dan akan
membawa perubahan kepada bumi pertiwi yang lebih baik.
Ada banyak sekali mahakarya
anak bangsa, namun bukan kita yang memakai dan menjadi pengendalinya, tetapi
negara – negara lain yang mengendalikannya. Karya anak bangsa masih dianggap
tidak ada oleh para pelakon negeri, tetapi diluar sana mereka dianggap sebagai
raja, sebagai pahlawan. Nama mereka dikenang selamanya, selalu dijunjung, dan
yang paling penting sangat dihargai. Sedangkan kita? Kita tidak ada rasa
peduli, tidak memperhatikan bahwa potensi-potensi untuk maju itu ada, tapi kita
mengindahkannya dan potensi-potensi tersebut telah terambil oleh negara -
negara lain. Kita masih berputar pada polemik-polemik yang tidak jelas asal
usulnya dan kapan selesainya. Terlalu lama bagi kita untuk menyelesaikannya,
karena masih berfikir apatis, masih ingin menguasai ini itu. Terasa jelas
bagaiman pelakon dari elit politik ingin menguasai negeri ini dengan membawa
paham-paham yang menurut mereka benar tetapi menurut masyarakat salah. Terlalu
banyak informasi yang disimpan untuk menutupi kebenaran yang sesungguhnya, yang
seharusya publik tau agar mereka dapat menentukan mana yang harus diikuti dan
mana yang harus dibuang. “siapa yang menguasai media massa, maka dia akan
menguasai dunia”, itulah ungkapan yang mendorong mereka untuk menguasai media
massa, suatu kesadaran agar kepentingan mereka tersampaikan.
Segera berbenah diri.
Persipakan diri untuk tantangan global yang semakin bergejolak. Jangan lupa
bahwa jati diri kita adalah pancasila yang berlandaskan bhinneka tunggal
ika. Jangan menjadi masyarakat yang
statis. Jangan mau menjadi masyarakat yang apatis terhadap segala hal, termasuk
perubahan – perubahan yang dirasakan. Jadilah masyarakat yang cerdas dan kritis
terhadap perubahan. Dengan begitu, maka apa yang dikatakan oleh Sukarno akan
tersampaikan “berikan aku sepuluh pemuda dan akan kugoncang dunia”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar