Rabu, 13 Desember 2017

ESSAY - Indonesia dan Global



Indonesia dan Global

Pada tahun 2016 berdasarkan studi Most Littered Nation In the World, Indonesia menempati urutan ke 60 dari 61 negara di dunia dalam hal minat membaca. Hal itu dituturkan juga oleh Pustakawan Utama Perpus RI, Subekti Makdriani saat menjadi pembicara Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Provinsi dan Kabupaten/Kota tahun 2017, di Pendopo Kabupaten Kendal, Senin (15/05/2017). Untuk di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) Indonesia berada di posisi tiga terbawah, di atas Kamboja dan Laos. Berdasarkan indeks nasional minat baca ini hanya sekitar 0,01%. Sedangkan pada hasil survei UNESCO hanya berkisar 0,001%. Artinya hanya 1 dari 1000 anak yang memiliki minat membaca. Hal tersebut membuat Indonesia berada di urutan 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Pemaparan fakta di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Negara Indonesia sekarang ini tertinggal sangat jauh. Beban yang harus ditanggung negara dan masyarakat semakin berat. Jika hal ini terus berlanjut, maka cita-cita pembangunan akan sangat terhambat dan membutuhkan waktu lama untuk memajukan negara ini. Padahal semua masyarakat menginginkan Indonesia maju, sejatera, ingin ini itu dan sebagainya. Tapi gerakan nyata yang dilakukan tidak semua melakukannya. Kita masih berfikir apatis terhadap lingkungan. Jangankan lingkungan, peduli akan dirinya saja “ogah-ogahan”. Semuanya tidak mau ikut membangun, hanya ingin menerima “manis” nya saja dari para penoreh tinta emas.
Lambatnya kemajuan ini membuat setiap individu telah kehilangan jati dirinya, sehingga lupa akan jati diri bangsanya sendiri bahkan mungkin sejarah yang membangun negaranya sendiri pun lupa. Hal ini karena budaya-budaya luar telah banyak mewarnai kehidupan bangsa ini. Mereka sadar bahwa Indonesia mampu dikalahkan dengan kesenangan duniawi dan kebanyakan dari kitanya ini terlalu fanatik akan hal itu. Mereka menghancurkan kita dengan berbagai bombardir yang tidak pernah kita sadari. Contoh kecilnya kita lirik pada film – film yang beredar, sadar atau tidak film yang kita lihat telah merubah sifat dan karakter kita, cara berpakaian, berperilaku terutama terhadap yang lebih tua, dan cara berbicara. Semua berubah tanpa kita sadari. Perubahan ini tidak hanya pada satu orang, tetapi semua orang. Mereka yang tidak pandai dalam memfilter akan terpengaruh. Budaya – budaya luar tahu, kita bisa dikalahkan dari alam bawah sadar kita.
 Pelakon – pelakon elit pun tidak luput dalam hal ini, entah yang berada di kursi legislatif, eksekutif, yudikatif, maupun yang tersebar di berbagai daerah. Mereka kebanyakan mencontohkan hal yang buruk, lupa kepada mereka yang telah mengangkat namanya. Berperilaku sesukanya hanya karena dia sebagai pemimpin, mengorbankan bangsanya sendiri untuk kepentingan pribadi. Selalu saja tajam ke bawah, tumpul ke atas.  Segelintir orang mengerti akan kondisi ini, mereka yang mencoba melawan  tanpa ada kemantapan hati akan terpengaruh. Namun tidak sedikit yang bertahan dengan kemantapan hati sembari melawan sesuai latar belakang keilmuannya masing – masing. Mereka yang dari berbagai kalangan menyatakan bahwa ada budaya – budaya yang tidak sesuai dengan Indonesia dan harus dikeluarkan, jangan sampai masuk kembali.
Dalam hal ini diperlukan wadah – wadah menarik agar para generasi bangsa terutama pemuda – pemudanya tertarik untuk melakukan perubahan. Perubahan untuk diri mereka, lingkungan dan bangsa negaranya. Mengarahkan semangat mereka adalah satu hal yang penting agar perubahan yang dinginkan tercapai. Diperlukan pula suatu hadiah atau imbalan sebagai bentuk terima kasih kepada mereka karena telah berjuang untuk bangsa dan negaranya, hal itulah yang dapat dilakukan untuk menghargai usahanya. Setiap manusia akan sangat senang jika ada penghargaan atas usahanya. Sederhana memang, tapi jika hal itu diterapkan disekolah maka saya yakin ke depannya tidak akan ada lagi murid-murid yang mencontek saat ujian. Karena faktanya, mereka mengutarakan bahwa guru lebih menghargai dan membanggakan nilai murid yang bagus, entah didapat dengan cara apa didapatkannya. Karena dimata guru nilai bagus menandakan si anak telah belajar bersungguh-sungguh. Padahal tidak. Ada anak yang telah belajar dan berusaha keras, tetapi nilainya masih dibawah minimal.  Tidak semua anak memiliki kemampuan dibidang yang sama, tapi sistem pendidikan di Indonesia yang memaksa mereka harus menjadi apa yang bukan diri mereka.
 Kemudian membantu dalam segala hal yang sifatnya membangun dan mengembangkan potensi yang ada. Jangan takut untuk mengorbankan sesuatu, jika masih takut untuk berkorban, maka impian perubahan itu hanyalah angan-angan semata. Andaikan sejak zaman penjajahan dulu tidak ada yang berani berkorban, kita belum merdeka sekarang. Sejak zaman kuno saja untuk pengembangan ilmu pengetauan dan teknologi mereka rela menghabiskan harta benda bahkan sampai ada yang meninggalkan keluarganya untuk kemajuan yang diharapkan sejak dulu. Mereka melakukan percobaan beribu-ribu kali untuk mensejaterakan umat manusia di masa depan. Karena orang zaman kuno sadar, masalah-masalah didunia ini akan semakin kompleks jika tidak dibarengi dengan kemajuan iptek. Tapi saat kemajuan zaman berlangsung, ada saja pihak – pihak yang mengingikan lebih dan lebih. Menyalahgunakan kemajuan iptek tersebut untuk kepentingan pribadi. Haus akan kekuasaan bahkan sampai sekarang masih haus.
Percetakan generasi yang membawa perubahan sangatlah penting, agar gejolak dunia saat ini tidak semakin parah. Indonesia mampu untuk melakukannya. Pemuda – pemuda kita saat ini telah berjaya di luar sana, telah dikenal sebagai agen perubahan. Mereka menampakkan ciri khas masyarakat Indonesia yang sesungguhnya. Dengan lebih menghargai hasil karya suatu anak bangsa dan memanfaatkan kecerdasan mereka untuk kemajuan negeri, maka setiap daerah di Indonesia akan maju dan akan membawa perubahan kepada bumi pertiwi yang lebih baik.
Ada banyak sekali mahakarya anak bangsa, namun bukan kita yang memakai dan menjadi pengendalinya, tetapi negara – negara lain yang mengendalikannya. Karya anak bangsa masih dianggap tidak ada oleh para pelakon negeri, tetapi diluar sana mereka dianggap sebagai raja, sebagai pahlawan. Nama mereka dikenang selamanya, selalu dijunjung, dan yang paling penting sangat dihargai. Sedangkan kita? Kita tidak ada rasa peduli, tidak memperhatikan bahwa potensi-potensi untuk maju itu ada, tapi kita mengindahkannya dan potensi-potensi tersebut telah terambil oleh negara - negara lain. Kita masih berputar pada polemik-polemik yang tidak jelas asal usulnya dan kapan selesainya. Terlalu lama bagi kita untuk menyelesaikannya, karena masih berfikir apatis, masih ingin menguasai ini itu. Terasa jelas bagaiman pelakon dari elit politik ingin menguasai negeri ini dengan membawa paham-paham yang menurut mereka benar tetapi menurut masyarakat salah. Terlalu banyak informasi yang disimpan untuk menutupi kebenaran yang sesungguhnya, yang seharusya publik tau agar mereka dapat menentukan mana yang harus diikuti dan mana yang harus dibuang. “siapa yang menguasai media massa, maka dia akan menguasai dunia”, itulah ungkapan yang mendorong mereka untuk menguasai media massa, suatu kesadaran agar kepentingan mereka tersampaikan.
Segera berbenah diri. Persipakan diri untuk tantangan global yang semakin bergejolak. Jangan lupa bahwa jati diri kita adalah pancasila yang berlandaskan bhinneka tunggal ika.  Jangan menjadi masyarakat yang statis. Jangan mau menjadi masyarakat yang apatis terhadap segala hal, termasuk perubahan – perubahan yang dirasakan. Jadilah masyarakat yang cerdas dan kritis terhadap perubahan. Dengan begitu, maka apa yang dikatakan oleh Sukarno akan tersampaikan “berikan aku sepuluh pemuda dan akan kugoncang dunia”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar